Selasa, 23 November 2010

Menikmati Kebosanan

Satu lagi artikel dari milist gerejaku...sangat menggugah.  Semua itu berasal dari pikiran kita...selamat menikmati...


Kebosanan adalah 'penyakit' yang kita timbulkan sendiri. Ini adalah sebuah cerita ringan tentang kebosanan. Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya, "Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"


Pak Tua: "Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan,mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."

Tamu: "Kenapa kita merasa bosan?"

Pak Tua: "Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."

Tamu: "Bagaimana menghilangkan kebosanan?"

Pak Tua: "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."

Tamu: "Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"

Pak Tua: "Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"

Tamu: "Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."

Pak Tua: "Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."

Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"

Pak Tua: "Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya." Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi dan berkata, "Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"

Pak Tua: "Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."

Tamu: "Contohnya?"

Pak Tua: "Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."

Lalu Tamu itu pun pergi. Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu: "Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"

Sambil tersenyum Pak Tua berkata: "Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran, berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."

Jangan Mengeluh, Bersyukurlah...

Artikel lagi dari milist gereja ku...semoga dapat memberikan pencerahan untuk semua yang membaca ya..GBU

Tuesday, 23 November 2010 14:31
Sebuah kata sederhana yang mungkin jarang kita gunakan dalam kehidupan sehari-Hari, tetapi seringkali Kita praktekkan langsung baik secara sadar maupun tidak sadar.
Kita semua pernah melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya.Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut.

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan. Dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana?


Menjadi seorang yang pengeluh mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu bersyukur. Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita keluhkan pasti ada hal yang dapat kita syukuri.

Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia? Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan.

Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra. Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda? Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau memberikan pekerjaan tambahan. 

Bersyukurlah karena Anda telah diberikan kepercayaan oleh atasan Anda, mungkin dengan Anda lebih rajin siapa tahu Anda bisa mendapatkan promosi lebih cepat dari yang Anda harapkan.

Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.

Cobalah untuk melakukan beberapa hal berikut ini:
1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari. Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda.

2. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka Mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.

3. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda.

Semakin banyak Anda bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri.

"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18)

Minggu, 21 November 2010

Si Ceria dan Si Murung

Artikel saduran dari Milist Gereja aku...semoga bermanfaat =)



Seperti namanya, Ceria mempunyai sifat periang, selalu gembira, dan selalu tersenyum. Sebaliknya Si Murung mempunyai perangai yang cemberut, selalu sedih, dan jarang tersenyum. Suatu ketika orangtua mereka berpikiran untuk membuat Si Murung tersenyum gembira dan membuat Si Ceria menjadi cemberut dan sedih. Nah, orangtua merekapun mulai memikiran apa yang menjadi kesenangan mereka!

Si Cemberut yang menginjak masa ABG sedang terkena demam HP, jika pergi dengan teman-temannya sering kali ia meminjam HP milik temannya untuk menelpon. Kemudian orangtuanya membelikan dia HP supaya dia menjadi senang dan gembira.

Sewaktu cemberut pergi sekolah HP itu dibungkus oleh orangtuanya dengan kertas kado yang bagus dan diletakkan di kamarnya. Sewaktu Cemberut pulang ia segera masuk ke kamarnya, dan ia melihat ada kado di kasurnya. Dengan sigap ia cepat-cepat membuka kado itu dan ia terkejut sekali ketika di dalamnya berisi HP. 

Wajahnya tersenyum, tapi tidak lama. Kemudian ia murung lagi karena ia berpikiran kalau-kalau HP ini ia bawa pasti teman-temannya akan banyak yang pinjam, terus kalo rusak biayanya pasti mahal. Di benaknya selalu muncul pikiran yang negatif, sehingga kado HP itu menjadi beban baginya. Dan yang keluar dari mulutnya adalah omelan-omelan dan umpatan, bukannya terima kasih kepada orangtuanya.

Si Ceria yang senang dengan kuda, diberi oleh orangtuanya kotoran kuda dengan harapan ia menjadi cemberut dan sedih. Kotoran kuda yang dibungkus dengan menarik itu juga diletakkan di kamarnya. 

Sewaktu Ceria pulang ia juga terkejut ada kado di kamarnya. Dengan sigap ia membuka pula kado itu. Ketika dibuka bau busuk keluar dari kado itu, dan alangkah terkejutnya bahwa kado itu berisi kotoran kuda. Mukanya menjadi kebingungan sebentar. Dia berpikir, "Masa sih orangtuaku yang begitu mencintai aku memberi aku kotoran kuda, wah pasti ada sesuatu di balik hadiah ini!"

Setelah berpikir sebentar kemudian ia lari kepada orangtuanya dan mencium mereka. Orangtuanya sangat bingung dan terkejut kemudian bertanya, "Lho kamu itu diberi kotoran kuda kok senang sih?" 

Lalu Ceria menjawab, "Papa, Mama, saya tahu kalian sangat mencintai saya, jadi tidak mungkin memberi kotoran kuda kepada saya, pasti kotoran kuda itu adalah sebuah tanda. Kalau ada kotoran kuda, berarti ada kudanya. Saya tahu bahwa kalian akan membelikan kuda pony buat saya, dan sekarang mana kudanya?"
Kemudian orangtuanya berkata, "Lho kami hanya memberi itu kepada kamu." Ceria menyahut, "Tidak mungkin saya yakin pasti ada kudanya." Akhirnya orangtuanya mengalah, dan membelikan dia kuda pony.

Orang yang hidupnya merasa sangat dicintai Tuhan akan selalu berpikir bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik dalam hidupnya, walaupun dia sedang dalam penderitaan. Sehingga orang yang hidup dalam cinta kasih Tuhan akan selalu gembira dan ceria di dalam hidupnya. 

Sebaliknya orang yang tidak merasa dikasihi oleh Tuhan, akan merasa bahwa hidup ini menjadi beban penderitaan yang sangat panjang. Sehingga di dalam hidupnya akan gelisah, takut dan khawatir.

Senin, 18 Oktober 2010

Berdoa seperti yang Tuhan mau

Saduran dari milist gereja saya:

Yesus mengajar para murid untuk tidak berdoa seperti orang munafik, berdoa sedemikian rupa supaya dilihat orang dan untuk pujian manusia. Ia juga memperingatkan para murid untuk tidak berdoa seperti orang yang tidak mengenal Allah, yang berdoa dengan bertele-tele dan berpikir bahwa doa mereka akan didengar karena banyaknya kata-kata yang mereka ucapkan.
Yesus kemudian menyimpulkan dan memerintahkan agar para murid tidak menjadi seperti mereka—munafik dan tidak mengenal Allah—karena, Yesus berkata, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Dari bagian Alkitab yang singkat di Mat. 6:5-8 kita belajar bahwa Yesus mengetahui bagaimana banyak orang salah mengerti tentang doa.


Ia kemudian memerintahkan para muridNya untuk tidak berdoa seperti mereka berdoa. Pada saat yang sama, Yesus mengajar mereka pengertian yang benar tentang doa. Pertama-tama, doa haruslah dilakukan dengan kepekaan bahwa kita sedang berdiri di hadirat Allah, bukan manusia. Kedua, doa haruslah berakar kepada pengenalan yang benar akan Allah.

Doa yang benar harus selalu berlandaskan iman yang benar, percaya bahwa Allah yang Mahatahu mengetahui dan mendengar bahkan suara-suara hati kita. Allah sanggup membedakan antara motivasi yang benar dan salah dalam doa. Jika Allah adalah Allah atas segenap hidup kita, jika Allah adalah Raja di atas segala raja dan pemilik segala sesuatu yang ada, maka di dalam inti setiap doa seharusnya ada sebuah kerinduan yang tulus, sebuah hasrat yang taat untuk menyesuaikan kehendak kita dengan kehendakNya, bukan sebaliknya.

Itu sebabnya, sebisa mungkin, kita berdoa dengan kesadaran bahwa kita sedang berdiri di hadapanNya dan berdoa dengan pengenalan yang Allah yang sepantasnya. Theologi dan spiritualitas hanya bisa dibedakan dengan kata-kata, tetapi tidak bisa dipisahkan dalam prakteknya.

Lantas bagaimana kita harus berdoa? Apa yang Yesus mau kita pelajari tentang doa ketika Ia mengajarkan “Doa Bapa Kami,” doa yang seharusnya menjadi panutan bagi doa-doa yang lain?

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu.” (Matius 6:9; TB)
Ketika kita berdoa kepada Allah sebagai “Bapa kami,” kita menempatkan diri kita sebagai anak-anakNya di hadapan tahta suciNya, dan dengan pertolongan Roh Kudus kita memohon kepadaNya untuk membangkitkan di dalam diri kita sikap hormat seorang anak dan percaya kepadaNya. “Bapa kami” juga berarti bahwa kita tidak seharusnya berdoa hanya sebagai individu-individu, tetapi sebagai sebuah komunitas anak-anak Allah; tidak berdoa demi ambisi pribadi yang egois, tetapi bagi kebutuhan orang lain juga, dan yang terutama, agar NamaNya dipermuliakan melalui hidup, kata-kata, dan segenap perbuatan kita. “Karena itu berdoalah demikian,” kata Yesus.

"Datanglah KerajaanMu, jadilah KehendakMu di bumi seperti di surga." (Matius 6:10; TB)
Allah mengajarkan kita untuk berdoa "Dikuduskanlah NamaMu." Bagaimana kita bisa menguduskan nama Allah dan membuat NamaNya dihormati dan dipuji oleh orang-orang di sekitar kita? Dengan membiarkan diri kita diperintah oleh Firman dan Roh KudusNya, semakin menundukkan diri kepadaNya. Orang akan melihat melalui hidup kita bahwa Kerajaan Allah hadir ketika Allah menjadi Raja atas hidup kita: keluarga, pekerjaan, perkataan, dan perbuatan kita. Untuk menghadirkan Kerajaan Allah, kita perlu berdoa agar Allah menolong kita menyangkal kehendak pribadi kita dan menaati kehendakNya. Semakin kita mengenal hidup yang sejati, semakin kita menyadari bahwa hidup yang diperintah oleh kehendak Allah adalah satu-satunya hidup yg layak dihidupi. Ini adalah rahasia hidup penuh sukacita dan bahagia yang sejati.

"Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." (Matius 6:11; TB)
Permohonan ini bukanlah basa-basi semata, namun sebuah permohonan yg tulus dan keyakinan iman bahwa kebutuhan jasmani kita hanya akan mendapatkan pemenuhan dari Allah, satu-satunya sumber dari segala sesuatu yg baik (Yak. 1:17). Di balik segala proses alami, transaksi ekonomi, dan mekanisme sosial yg kelihatan, kita mengaku bahwa tangan Allah yg tdk kelihatanlah yg menyediakan makanan kita sehari-hari. Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita (Rm. 8:29). Yesus mengajar kita utk meminta makanan "yang secukupnya," bukan untuk tahun-tahun mendatang, tapi utk hari ini. Allah menghendaki kita belajar bergantung kepadaNya dan meletakkan percaya kita kepadaNya di setiap hari dalam kehidupan kita, dan menarik rasa percaya kita kepada ciptaan-ciptaan yg lain, termasuk rasa percaya diri sendiri. Ia menghendaki kita meminta seporsi berkat yg cukup dan perlu untuk menopang kerinduan kita untuk memuliakan Dia dengan tubuh dan jiwa kita. Sudahkah kita mengucap syukur kepadaNya, yang telah memberi segala berkat yang kita terima?

"Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." (Matius 6:12; TB)
Yesus mengajar kita berdoa untuk memohon pengampunan kepada Allah, mengakui segala kelemahan dan dosa yang kita pernah lakukan dan memohon kemurahanNya mengalahkan semua itu yang masih melekat pada kita. Kita menerima pengampunan tersebut hanya jika kita percaya dan bertobat, dan dibasuh oleh darah Kristus. Pengampunan ini, bersama dengan pembaruan batin oleh Roh Kudus, membawa perubahan radikal dalam hidup yang tidak bisa dikembalikan. Kita bisa melihat perubahan radikal ini dalam hidup kita melalui dampak-dampaknya. Tidak ada tanda anugerah Allah yang lebih meyakinkan daripada hati yang mengampuni, hati yang dipenuhi oleh anugerahNya. AnugerahNya memampukan kita mengampuni diri dan berdamai dengan masa lalu kita. Tidak hanya kita akan melihat diri kita secara berbeda, kita juga akan melihat orang lain secara berbeda, dan juga dimampukan untuk mengampuni mereka. Mintalah pengampunan Allah dan belajarlah mengampuni!

"Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat." (Matius 6:13a; TB)
Alkitab berkata bahwa Allah tidak mencobai siapapun, dan tiap orang dicobai dan tergoda oleh nafsunya sendiri (Yak. 1:13). Doa ini mengajarkan kita: (1) dengan jujur mengaku kepada Allah bahwa kita sangat mudah jatuh ke dalam dosa dan menjauh dari tugas kita memuliakan Dia; (2) menyadari kehidupan yang penuh penderitaan dan kejahatan ini; dan (3) menyatakan kuasa Allah Mahatinggi yang mengatasi segala yang jahat. Diri kita begitu lemah sehingga kita tidak bisa berdiri sendiri sedetikpun. Ketika kita dicobai oleh musuh-musuh kita (iblis, dunia berdosa, dan kedagingan kita), kita harus berdoa agar Ia memberi kekuatan untuk menghadapi pencobaan sehingga kita tidak berdosa dan menjauh dari Allah. Ingatlah bahwa iblis berkeliaran mencari mangsa untuk dimakan! (1Ptr. 5:6-11) Itu sebabnya kita perlu berdoa agar Allah membatasi si jahat dan membela kita dari kejahatan sekarang dan yang akan datang dengan membebaskan kita dari cengkeraman cakar-cakar mereka.

"Karena Engaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin." (Matius 6:13b; TB)
Bagian penutup Doa Bapa Kami mendorong kita untuk sekali lagi mengaku bahwa segala permintaan kita dalam doa didasari atas kepercayaan kita sepenuhnya akan Allah sebagai Raja, bahwa Ia memiliki segala kuasa untuk menjawab doa-doa kita, untuk memberi kepada kita segala yang baik, dan bahwa melalui semua permintaan kita, bukan kita, tapi biarlah Nama Allah yang kudus yang dipermuliakan. Sangatlah penting bagi kita untuk senantiasa mengingat akan Kerajaan Allah, kuasa, dan kemuliaanNya ketika berdoa, sehingga kita bisa berdoa secara efektif tanpa terlarut dalam kata-kata manusia yang sia-sia belaka. Marilah berdoa bukan untuk keinginan atau agenda pribadi kita, tetapi mari memanjatkan doa-doa yang menyenangkan Allah, sbgmn yg Yesus ajarkan kpd kita. Biarlah kata-kata Tuhan kita Yesus Kristus dalam doa ini mengajar kita dan menanamkan kerinduan untuk berdoa dengan sungguh-sungguh.


"Lagipula, berdoa adalah mengarahkan pikiran kepada Allah, dan sebuah percakapan denganNya yang tak tertandingi oleh apapun yang sanggup membakar hati manusia dengan hasrat surgawi dan dengan penuh kuasa mengubah pikiran sesuai dengan kehendak Allah." (The Tetrapolitan Confession (1530), Ch. VII) Yuzo Adhinarta


Terima kasih untuk Maxwel K untuk artikelnya

Page Navigation Widget